Rabu, 28 Desember 2011

Gerakan Revolusi e-Bisnis Di Indonesia!

Tahukah Anda, bahwa kebanyakan orang Indonesia menggunakan Internet hanya sebagai 'user' (pengguna)? Dan 'user' itu identik dengan 'customer'. 

Di bawah adalah gambaran kegiatan seorang pengguna internet sebagai user:

Internet for user
User biasanya menggunakan Internet hanya sebatas untuk mengirimkan email; browsinguntuk mencari informasi; chatting untuk ngobrol sana-sini dengan teman; berdiskusi melalui forum, milis, dll. Juga men-download musik, video, softwaregameseBook untuk kepentingan pribadi atau sekedar hiburan.

Apakah Anda salah satunya? :-)

Fakta 1: Bisnis online (eCommerce) saat ini masih dikuasai oleh negara-negara maju. Sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia dijadikan salah satu target market atau pangsa pasar mereka!

Fakta 2: Sebuah bangsa akan lebih maju, jika masyarakatnya sadar bahwa internet sebenarnya bisa dijadikan sebagai 'alat' untuk mengembangkan bisnis mereka ke seluruh dunia.

Seorang pemasar online, dia menggunakan teknologi internet untuk mengembangkan bisnisnya ke penjuru dunia. Kita bisa lihat bagaimana mereka menggunakan email untuk promosi melalui newsletter-nya, browsing untuk melakukan riset pasar, meng-upload info produk mereka untuk dijual. Dan menyediakan forum untuk pelanggannya. 

Sederhananya, yang mereka lakukan adalah kebalikan dari seorang 'user'. Coba perhatikan gambar di bawah:

Internet for marketer
Bisnis online sendiri sebenarnya sudah marak di Indonesia sejak tahun-tahun sebelumnya. Banyak orang Indonesia mengenalnya dengan istilah eCommerceinternet marketing, atau online marketing

Perbincangan seputar HEBATnya eCommerce ini sering kita dengar di mana-mana. Sayangnya, tidak ada yang mampu mengajarkan ilmunya, setahap demi setahap dansecara detil apa yang harus dilakukan, dan bagaimana memulainya!

Untuk itulah Asian Brain IMC (Internet Marketing Center) hadir, sebagai pusat pembelajaran Internet Marketing PERTAMA di Indonesia. 

Pendirinya, Anne Ahira, memiliki misi dan visi untuk menciptakan Gerakan REVOLUSI eBisnis di Indonesia. 

Melalui 'sekolah online' nya, Ahira berharap bisa mencetak ribuan pemasar onlineprofessional yang siap bersaing dengan pemasar online di seluruh dunia, dan sedikit banyak hal ini sudah terbukti!

Saat menerima penghargaan dari Bapak Suryadharma Ali, Menteri Koperasi & UKM Republik Indonesia, Anne Ahira memberikan gambaran posisi Indonesia di dunia internet marketing saat ini:


Menurut Ahira, ada jutaan pemasar online dari berbagai negara saat ini, yang mempromosikan produk mereka ke seluruh dunia, dan salah satu negara yang menjadi target marketnya adalah INDONESIA

Bayangkan, sudah berapa banyak orang Indonesia yang telah berbelanja produk melalui internet? Katakanlah berbelanja buku di Amazon? Atau meski hanya mengklik sebuah iklan sekalipun? Lalu siapa yang meraup keuntungan? --» Pemasar online luar negeri! «-- 

Menurut Ahira, fakta di atas bisa diubah dan diseimbangkan, dengan cara memberikanedukasi kepada masyarakat Indonesia agar mulai menggunakan internet sebagai media promosi bisnis mereka! 

Bagi Anda yang tidak memiliki produk, Anda bisa menjalankan bisnis online dengan mengikuti program affiliate, yaitu membantu memasarkan produk orang lain untuk mendapatkan komisi. 

Bagi pemilik Industri kecil, Anda bisa membangun program affiliate dan mengundang pemasar online di seluruh dunia untuk turut serta mempromosikan produk Anda ke seluruh dunia!

Bayangkan, jika banyak orang Indonesia yang paham bagaimana cara mempromosikan produk dalam negeri melalui internet, maka inilah yang akan terjadi:


Jika ada ribuan, atau bahkan jutaan orang Indonesia yang mampu berpenghasilan ribuan US dollar per bulan dari bisnis online-nya! Bukankah itu sebuah REVOLUSI?

Mungkinkah REVOLUSI ini bisa terjadi?

Kenapa tidak? :-)

Jika kita semua mulai belajar, saling bahu-membahu dan bergandengan tangan, revolusi itu sangat mungkin terjadi! 

Melalui edukasi Internet Marketing di Asian Brain, bersama-sama kita BUKTIKAN kepada dunia, bahwa orang Indonesia pun mampu bersaing di pasar global, dan YAKIN kita bisalebih baik daripada mereka!

Banyak murid Ahira sudah membuktikannya, dan kini giliran ANDA!

Dukung Gerakan Revolusi eBisnis di Indonesia dengan belajar Internet Marketing bersama kami!

Minggu, 06 November 2011

The Best School

Jika kita membaca buku karya Thomas Armstrong, The Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice, kita akan menemukan dua wacana besar dalam model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua, Wacana Perkembangan Manusia.

Dua model sekolah ini mempunyai karakter masing-masing. Menurut Armstrong model sekolah Wacana Perkembangan Manusia merupakan model yang baik. Amstrong menentang sekolah Wacana Prestasi Akademik karena menjadi salah satu penyebab hancur dan gagalnya pendidikan.

Dampak negatif sekolah Wacana Prestasi Akademik yaitu mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian, mendorong siswa menyontek, mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan pegawai administrasi, mengakibatkan tingkat stres yang berbahaya di kalangan pendidik dan siswa. Sekolah Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan munculnya kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan perkembangan anak di semua tingkatan sekolah, mulai dari prasekolah hingga sekolah atas. Anak kehilangan esensi belajar yang sesuai dengan perkembangan dirinya. Anak didik dikondisikan untuk mengejar target akademik, yaitu untuk lulus ujian semata meski dengan banyak melakukan kecurangan. Berbeda dengan model sekolah Wacana Perkembangan Manusia yang mempunyai makna mengungkap atau membuka potensi yang terdapat dalam diri manusia bahkan mempunyai makna mengurai, membuka atau membebaskan manusia dari keterkungkungan, kerumitan atau rintangan.

Beberapa dampak negative dari Wacana Prestasi Akademik:

1. Menimbulkan bidang-bidang yang terabaikan di kurikulum, yang merupakan bagian dari pendidikan utuh yang diperlukan siswa guna meraih keberhasilan dan pemenuhan dalam hidup.

2. Mengakibatkan terjadinya pengabaian intervensi instruksional positif yang tidak bisa dinilai oleh data dari penelitian ilmiah.

3. Mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian.

4. Mendorong siswa menyontek dan menjiplak.

5. Mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan pegawai administrasi.

6. Mendorong siswa menggunakan bahan-bahan illegal untuk membantu meningkatkan kinerja belajar.

7. Memindahkan kendali kurikulum dari pendidik di ruang kelas ke organisasi yang membuat standard an ujian.

8. Mengakibatkan tingkat stress yang berbahaya di kalangan pendidik dan siswa.

9.Miningkatkan kemungkinan siswa tinggal kelas dari tahun ke tahun dan keluar sekolah sebelum lulus.

10. Tidak memperhatikan perbedaan latar belakang budaya individu, gaya belajar, kecepatan belajar serta factor-faktor penting lain yang ada pada kehidupan anak sesungguhnya.

11. Memotong habis nilai hakiki (kesenangan) belajar demi belajar itu sendiri (nilai yang tinggi).

12. Membuat makin menjamurnya praktek-praktek tak layak di sekolah. (pendidikan PAUD yang dijajah oleh pekerjaan rumah, tugas-tugas, jam sekolah lebih panjang dsb.)

Sebenarnya inti pendidikan adalah bermakna dan memfasilitasi perkembangan manusia. Wacana Perkembangan Manusia lebih mengukur pertumbuhan pembelajaran di tengah pengalaman belajar itu sendiri. Menyuarakan pilihan-pilihan berkelanjutan untuk memfasilitasi perkembangan, melengkapi lingkungan belajar yang aman, membangun kepercayaan dalam lingkungan belajar, dan menggunakan pendekatan untuk mewadahi pertumbuhan optimal. Setiap individu dipandang dan diakui sebagai manusia yang mempunya nilai penting. Keunikan pada setiap individu menjadi kekayaan dunia pendidikan yang berwawasan pada Wacana Perkembangan Manusia, dan tentunya mempunyai dampak positif.

Dampak positif model Wacana Perkembangan Manusia yaitu membuat siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yang membuat mereka lebih siap untuk turun ke dunia nyata. Membuat semua siswa berhasil dan berdiri di bidang kekuatannya masing-masing. Siswa dapat mengembangkan kompetensi dan kualitas, akhirnya akan membantu dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Wacana Perkembangan Manusia membantu memperbaiki masalah sosial yang mencemari remaja dalam budaya masa kini yang terkotak-kotak, membantu siswa menjadi dirinya sendiri. Mengurangi masalah disiplin di sekolah, mendorong inovasi dan keragaman program belajar. Wacana Perkembangan Manusia, jika diimplementasikan pada program pendidikan di setiap jenjang pendidikan. Pendidikan pada wacana perkembangan manusia untuk tingkatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diimplementasikan dalam bentuk permainan. Permainan bagi anak adalah satu-satunya cara terbaik untuk memenuhi persyaratan perkembangan yang dapat ditempuh. Bermain adalah proses yang terus berubah (dinamis) dan bersifat multiinderawi, interaktif, kreatif, dan imajinatif. Pendidikan SD mengkhususkan kegiatan belajar untuk mengetahui alam semesta. Kegiatan yang sesuai perkembangannya adalah ruangan kelas yang membuka dunia nyata, membaca,menulis, dan matematika yang berhubungan dengan penemuan dunia nyata. Bahan pelajaran sifatnya autentik, mengeksplorasi dunia nyata yang dipandu oleh guru dan belajar berdasarkan pertemuannya dengan dunia nyata. Pada tingkatan SMP, proses pendidikan difokuskan pada perkembangan sosial, emosional dan meta-kognitif. Pada masa ini peserta didik dalam posisi remaja awal; masa sosial yang intens, ketika rasa ingin tahu untuk menjadi bagian dari sesuatu, komunitas, status sosial, dan kedekatan emosional memberikan konteks tempat bagi remaja dalam menemukan jati dirinya. Kaum remaja ini membutuhkan; suasana aman di sekolah, komunitas belajar kecil, hubungan antar-orang dewasa (guru, orang tua, lingkungan) yang bersahabat, panutan yang positif, aktivitas seni yang ekspresif, perhatian pada kesehatan dan kebugaran mengingat pada usia tersebut akan mengalami perubahan pubertas. Pada tingkat SMA (dan selanjutnya) siswa difokuskan pada hidup mandiri di dunia nyata. Siswa lebih difokuskan untuk kehidupan mereka setelah sekolah.

Minggu, 11 September 2011

Urgensi Pendidikan Karakter

Urgensi Pendidikan Karakter
Prof . Suyanto Ph.D


Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. 

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. 

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character... that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter... adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. 

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. 

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. 

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. 

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. 

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.*

Selasa, 30 Agustus 2011

Sejarah Bangsa Yahudi

Perkawinan nabi Ibrahim dengan Sarah, berdomisili di Palestina melahirkan nabi 
Ishaq, hasil perkawinan nabi Ishaq dengan seoarang wanita Babilon melahirkan 
nabi Yakub. Nabi Yakub melahirkan 12 anak diantaranya yang terkenal dengan nama 
Israil, Yahuda, Imran dan nabi Yusuf yang berdomisili di Mesir. Dari itu maka 
istilah maka istilah bani Israil dan Yahudi adalah rumpun bangsa yang lahir dan 
dibesarkan dalam udara Fir'aunisme di Mesir, sepeninggalan nabi Yusuf as. 

Sunnah Yusuf adalah salah satu dari kelanjutan sunnah Ibrahim yang berhasil 
membentuk pandangan rakyat Mesir dikala itu (abad 19 SM) dengan satu ajaran 
menurut sunnah rasul, dimana nabi Yakub sekeluarga memboyong ke Mesir. 
Selanjutnya sepeninggalan nabi Yakub dan Yusuf terpecah-pecah kedalam klen Bani 
Israil, Klen Yahudi, keluarga Imran, dsb. Sampai-sampai menggoncangkan 
perimbangan dengan penduduk asli, bangsa Qubti, sehingga merupakan golongan 
manusia yang tidak disenangi. 

Akhirnya semenjak Fir'aun dinasty Ramses II, sebagai akibat dari perang Hikos, 
bani Israil dan Yahudi, dsb. Digusur dan diperbudak di Mesir. 

Sunnah Musa, adalah sunnah turunan nabi Yakub melalui keluarga Imran di Mesir. 
Akhirnya nabi Musa berhasil membebaskan bani Israil dan Yahudi dan menatakan 
Iman di Palestina. Sepeninggal nabi Musa dan Harun maka muncul Musa Samiri yang 
melakukan aduk-adukan Taurat ms Musa sehingga pada abad 11 SM menjadi makanan 
empuk peradaban Kreta dari bangsa Filistin dengan rajanya Jalut. 

Sunnah Daud dan Sulaiman, merupakan kebangkitan kembali sunnah turunan Yakub, 
yaitu Zabur ms Daud yang membebaskan bani Israil dan Yahudi dari perbudakan 
Jalut. Dengan kemenangan Zabur ms Daud Bani Israil dan Yahudi kembali berhasil 
menguasai permukaan bumi Kan'an yang berpusat di Palestina, diperkirakan pada 
abad 10 SM, yang dilanjutkan dengan sunnah Sulaiman. Sepeninggal beliau terjadi 
lagi aduk-adukan Nur-Zhulumat ms Syayathin yang akhirnya membikin bani israil 
dan Yahudi dihancurkab oleh bangsa Asyiria (Tiglat Pelasar) dan bangsa Babilonia 
(Nebukadnezar) sehingga menjadi tawanan selama 100 tahunlebih di Babilonia. 

Sepeninggalan nabi Daud dan Sulaiman, bani Israil dan Yahudi pecah belah, 
wilayah utara menjadi Yudea dan didominir oleh Yahudi, bagian selatan menjadi 
Israilia dan didominir oleh bani Israil. Raja Asyiria, Sargon II, dalam tahun 
722 SM menaklikkan wilayah Israilia, bani Israil ditawan dan diangkut ke 
Babilonia. Selanjutnya Asyiria ditaklukkan oleh Babilonia maka bani Israil 
menjadi piala bergilir pindah tangan menjadi tawanan bangsa Babilonia. Akhirnya 
Babilonia (Nebukadnezar) menaklukkan Yudea dlm tahun 597 SM dan Yahudi ditawan 
dan diangkut ke Babilonia pula. 

Setelah wilayah israil dicaplok oleh Sargon II, demi kepentingan Politik dan 
guna menyesuaikan diri maka raja Josiah dari Yudea mereformasikan sisa-sisa 
peninggalan Musa dan Harun terdiri dari Dokumen J (Jehovah) dan Dokumen E 
(Elohim) menjadi satu Dokumen D (Lima kitab yang memberi hukum = Peunteteuh), 
yaitu lima kitab bagian permulaan menjadi satu kitab suci yang bernama 
Perjanjian Lama. 

Pada tahun 560 SM bangsa Babilonia dikalahkan oleh bangsa Persia Lama dibawah 
pimpinan raja Cyrus yang dilanjutkan oleh Cambyses. Bani Israil dan Yahudi 
dibebaskan dari tawanan di Babilonia dan diperbolehkan pulang untuk membangun 
kembali Palestina. 

Bani Israil dan Yahudi yang pulang kembali ke Palestina dibawah pimpinan Ezra 
dan Nehemiah adalah golongan yang fanatik membabi buta ingin membangun satu 
masyarakat Yahudi secara konsekwen menurut kitab perjanjian lama. Dari golongan 
ini kelak lahir gerakan Zionisme. Untuk itulah Ezra dan Nehemiah melakukan satu 
Fusi atau Unifikasi terakhir tahun 444 SM dengan menambahkan dokumen P 
(Deuteronomy/Peuteteuh) menjadi lima kitab bagian pertama perjanjian lama (kitab 
kejadian, kitab keluaran, kitab Imamat orang Lewi, kitab Ulangan dan kitab 
Bilangan) yang dipopulerkan sebagai buah tangan nabi Musa sendiri. 

Sebaliknya bani Israil dan Yahudi yang sudah mengenyam alam pikiran Yunani, 
mereka menganggap bahwa kitab perjanjian lama harus ditafsirkan memenuhi 
kepentingan masyarakat yang sudah berobah, hasilnya lahirlah Ilmu Pengetahuan 
Barat yang Naturalisme dan Idealisme. Perguruan-pergurua tinggi seperti Sarbone, 
Oxford, Havard dsb adalah kelanjutan dari Talmudisme (akademi ajaran Yahudi). 
Golongan bani Israil dan Yahudi yang demikian tidak mau pulang ke Palestina dan 
menyelinap didalam berbagai bangsa sehingga mewarnai kehidupan bangsa-bangsa 
didunia ini. Dari itu maka mereka disebut Diaspora, mereka kelak menjadi 
Amerika, Portugis, Swis, Rusia, Polandia, Rumania, Norwegia, Yugoslavia, 
Bulgaria, dasb. 

Yahudi dan bani Israil adalah makhluk Allah yg dikurniai kemampuan lebih hebat 
dibanding dengan lainnya oleh karena Allah terus menerus menurunkan Ilmu ms 
Rasul-NYA didalam pangkuan mereka selam 2000 tahun. Mereka bekerja dengan dua 
ide yang bukan saja telah menyelamatkan diri dari kemusnahan bangsa nya tetapi 
terus menerus mempengaruhi dunia barat sekarang ini. Idea pertama, adalah 
pengundang-undangan sebagian dari kitab sucinya sehingga menghadiahkan kepada 
dunia kitab Perjanjian Lama dan perjanjian Baru. Idea kedua ialah penyelubungan 
idea-idea yang berbau Yahudi untuk dieksport, ini telah memberikan kepada dunia 
pertama-tama agama kristen, selanjutnya Islamisme (Buku : Desain Yahudi atau 
kehendak Tuhan, oleh Max I Dimont). Max I Dimont mengatakan dalam bukunya The 
Indestructible Jews, Yahudi dan bani Israil memiliki tiga tahap perjalanan yakni 
tahap I sejak nabi Ibrahim s/d nabi Isa, 2000 tahun pertama dimana Yahudi 
berpencar ke sepenjuru dunia bagaikan bola-bola api. Tahap ke II sejak nabi Isa 
s/d Ben Gurion (Perdana Mentri Israel – 1948) sebagai 2000 tahun kedua dimana 
Yahudi berhasil menghimpun kekuatan menjadi satu kekuatan dunia. Dan terakhir 
tahap III dari Ben Gurion s/d masa yang akan datang Yahudi akan menyelesaikan 
tugas akhirnya yaitu menjadi pemimpin umat manusia dipermukaan bumi ini. 

Sepeninggalan nabi Isa kembaliYahudi mengaduk-aduk Injil ms Isa dibawah pimpinan 
Rabbi Yochanan Bin Zakkai dengan alam pikiran Majusi, Romawi, Yunani menjadi 
kitab perjanjian lama (old testament) atas hak cipta Musa dan Daud dan dengan 
merk perjanjian Baru (new Testament) atas hak cipta anak Maryam, anak Allah, dan 
bukunya dapat kita baca sekarang dalam bahasa Indonesia dengan judul AL KITAB. 

PERJALANAN YAHUDI DARI TAHUN KE TAHUN MENUJU NEGARA ISRAEL 

1. Tahun 2000 SM, Bangsa Amorites, Canaanites (kelak dikenal sebagai bangsa 
Phoenisia), dan bangsa Semitic yang lain memasuki daerah Palestina (Kanaan). 
Kemudian sekitar 1800 sampai 1500 SM, bangsa Semitic (Hebrews) hijrah dari 
Mesopotamia (Iraq) dan menetap di Canaan, yang kemudian dikenal sebagai bangsa 
Israel. Kemudian Sebagian bangsa Israel hijrah ke Mesir (Egypt). 
2. Tahun 1200-an SM, Musa memimpin bangsa Israel hijrah keluar Egypt, dan mereka 
kembali ke Kanaan. 
3. Tahun 1100 s/d 1000 SM, bangsa Philistines (Raja Saul) dan the Israelites 
saling bertarung. 
4. Tahun 1000 SM, bangsa Israel yang dipimpin oleh Daud berhasil menaklukkan 
Philistine. 
5. Tahun 928 SM, Sulaiman, penerus Daud, wafat maka selanjutnya bangsa Israel 
terpecah dua. Wilayah utara Palestina dikuasai oleh kerajaan Israel dan wilayah 
selatan Palestina dikuasai oleh kerajaan Judah. 
6. Tahun 722 atau 721 SM, Asyiria (Iraq) menguasai kerajaan Israel dan bangsa 
Yahudi diperbudak di Babilonia. Seratus tahun kemudian Imperium Babilonia 
menaklukkan Asyiria. 
7. Tahun 587 atau 586 SM, Imperium Babilonia menaklukkan kerajaan Judah dan 
menghancurkan bangunan Sulaiman di Jerusalem. Bangsa Yahudi diperbudak di 
Babilonia. 50 tahun kemudian Imperium Babilonia ditaklukkan oleh Imperium Persia 
(Raja Cyrus). Cyrus, mempersilakan bangsa Yahudi kembali dan membangun 
Palestina (yerusalem). 
8. Tahun 530 s/d 331 SM, Alexander the Great menaklukkan Imperium Persia. 
Setelah wafatnya Alexander di tahun 323 SM, jendralnya memecah Imperiumnya. 
Salah satu jendralnya, Seleucus, mendirikan dynasty yang mengusai daerah 
Palestina sekitar 200 SM. Seleucus mengizinkan praktek Judaisme. Tatapi 
kemudian, salah satu Raja pada Dinasty ini, Antiochus IV, berusaha melarang 
Judaisme. 
9. Tahun 167 SM, bangsa Yahudi dibawah pimpinan the Maccabeans (Judah Maccabea 
anak dari Mattathias) mengusir dinasty Seleucids dari Palestine. Bangsa Yahudi 
berhasil membangun kerajaan yang merdeka, yang disebut Judah. 
10. Tahun 63 SM, Imperium Romawi menguasai Judah, sehingga Judah menjadi dibawah 
kekuasaan Romawi. Romawi menyebutnya wilayah Yudea. Isa lahir di Bethlehem yaitu 
pada zaman awal pemerintahan Romawi. 
11. Tahun 66 s/d 132, Pemerintahan Romawi berhasil meredam pemberontakan bangsa 
Yahudi. Tahun 70, the Roman general, Titus menyerang Jerusalem, 
12. Tahun 135, Romawi mengusir bangsa Yahudi dari Yerusalem. Palestine dibawah 
pemerintahan the Roman Empire sampai tahun 300-an dan dilanjutkan sampai the 
Byzantine (Konstantinopel,Turki - Romawi Timur) Empire. 
13. Tahun 600-an, Dinasty Arab menguasai utara, dari Arabia sampai sekitar the 
Middle East, termasuk Palestine. Dinasty Arab berkuasa sampai dengan awal 
1900-an. 
14. Tahun 1000-an, Dinasty Seljuks, bangsa Turkish, mulai mengambil alih 
Palestine. 
15. Tahun 1096, perang salib dimulai, pasukan kristen dari Europe menginginkan 
kembali wilayah Palestina. Tahun 1099, Pasukan kristen berhasil menguasai 
Palestina. 
16. Tahun 1187, Salahudin al Ayubi (bangsa Arab) menyerang dan menguasai 
Palestina (Yerusalem). 
17. Pertengahan 1200-an, Dinasty Mamelukes Mesir (Egypt) memasukkan Palestine ke 
dalam kekuasaannya. 
18. Tahun 1300-an, bangsa Yahudi dari Spanyol dan wilayah Mediterranean lain 
pindah ke Jerusalem dan wilayah lain Palestine. 
19. Tahun 1516, The Ottoman Empire (Dinasty Usmaniah-Turki) menaklukkan Dinasty 
Mamelukes, dan Palestine menjadi bagian the Ottoman Empire. Populasi bangsa 
Yahudi semakin bertambah di Palestina, tahun 1880 menjadi sekitar 24.000 orang. 
20. Perang Dunia I (1914-1918), the Ottoman Empire gabung dengan Germany and 
Austria-Hungary. Pemerintahan Militer Ottoman berkuasa di Palestine. The United 
Kingdom (Inggris) dan European merencanakan menghancurkan the Ottoman Empire 
setelah PD I. Inggris berusaha membantu Arab untuk merdeka dari Ottoman setelah 
selesai perang. Setelah PD I dikeluarkan Mandat Teritorial oleh United Nation 
(UN). Inggris membawahi wilayah Iraq, Tanzania dan Palestina. Selanjutnya 
wilayah palestina dipecah menjadi Palestina dan Trans Jordan (Jordania). Prancis 
membawahi wilayah Syria ( yang dipecah menjadi Syria dan Libanon). the United 
Kingdom and France berbagi wilayah Cameroons and Togoland. Belgium mendapat 
Ruanda-Urundi. Japan, Australia, New Guinea, Nauru, diberikan ke German. New 
Zealand mendapat Western Samoa (now Samoa), dan the Union of South Africa 
(Afrika Selatan), Namibia masuk ke German. The mandate system berakhir tahun 
1947. Iraq, Syria, Lebanon, dan Jordan, menjadi negara merdeka. Namibia merdeka 
tahun 1990. 
21. Tahun 1920, the United Kingdom mendapat mandat untuk membawahi Palestine. 
Inggris menjajikan sebuah negara Israel di Palestina untuk bangsa Yahudi 
(Belford declaration). 
22. Setelah PD II (1939-1945), The Zionists menghendaki the British mengizinkan 
imigrasi ratusan ribu orang Yahudi yang masih hidup akibat the Holocaust( 
pembunuhan massal yahudi Eropa oleh Nazis). The United Nations komisi khusus 
Palestine memutuskan Palestine dipecah menjadi negara Arab dan negara Yahudi. 
23. 14 Mai 1948, bangsa Yahudi memproklamirkan negara Israel merdeka dan the 
British menarik diri dari Palestine. selanjutnya, negara-negara Arab menyerang 
Israel. Sampai sekarang masih terjadi perebutan di Palestina antara 
nagara-negara Arab dengan Israel yang didukung oleh Inggris dan Amerika. 

PERJALANAN YAHUDI DIASPORA SETELAH DIBEBASKAN CYRUS (IMPERIUM PERSIA) DARI 
BABILONIA 

1. Tahun 530 SM, Bangsa Yahudi yang memilih tidak kembali ke Palestina, setelah 
dibebaskan Cyrus, kemudian menyebar keberbagai bangsa di seluruh dunia, disebut 
Yahudi Diaspora. 
2. Tahun 200 sampai 500, para pakar menafsirkan the Mishnah (ditulis 70 s/d 200) 
dan the Gemara (ditulis 200 s/d 500). The Mishnah dan the Gemara digabung 
membentuk the Talmud. Dua versi pembuatan Talmud, pertama di Galilee (the 
Palestinian or Jerusalem Talmud) dan akhirnya di Babylonia (The Babylonian 
Talmud). 
3. Tahun 600-an, Arabian Muslims mendirikan empire yang kekuasaannya mencapai 
southwestern Asia, Afrika Utara, dan Spanyol. The Muslims mempersilakan yahudi 
dan kristen untuk mempraktekkan religions nya. Komunitas Yahudi exis di daerah 
kekuasaan Arab muslim seperti Babylonia, Egypt, Morocco, dan Yemen. Tetapi pusat 
kebudayaan bangsa Yahudi berkembang di wilayah kekuasaan Arab, Spanyol. 
4. Periode 900-an sampai 1100-an dikenal sebagai jaman keemasan bangsa Yahudi. 
Jews worked in crafts, in medicine and science, and in business and commerce. 
Sebagian ada yang menduduki pejabat di pemerintahan. Phisikawan dan filsuf Moses 
Maimonides, sastrawan dan philosof Solomon ibn Gabirol, dan pujangga Judah 
Halevi. 
5. Tahun 1096, gereja kristen menjadi sangat kuat di Europe (Setelah kejatuhan 
the Roman Empire) dan bangsa Yahudi dimusuhi, sejak dimulainya perang salib. 
6. Mulai 1200-an, bangsa Yahudi diusir dari England, France, dan central Europe. 
Bangsa Yahudi banyak yang tinggal di Eropa Utara, Poland. 
7. Tahun 1492, Yahudi yang tidak mau menjadi kristen diusir dari Spanyol. Banyak 
Yahudi yang melarikan diri ke Itali dan Turki, sebagian juga ada yang ke 
Palestina. 
8. Tahun 1654, bangsa Yahudi datang ke Amerika, tinggal di New York City, 
Charleston, S.C.; Newport, R.I.; Philadelphia; dan Savannah, Ga. Selama terjadi 
Revolusi di America (1775-1783), banyak orang Yahudi membantu tentara kolonial. 
Seorang Yahudi kaya, Haym Salomon banyak memberikan bantuan guna berdirinya 
pemerintahan United States. Tahun 1920-an, Yahudi U.S. adalah Yahudi yang 
terbesar dan paling terjamin komunitasnya. 
9. Tahun 1760, Ba'al Shem Tov, seorang guru Yahudi dan pendukungnya mendirikan 
Hasidism (studi ttg hidup dan kebudayaan bangsa yahudi) di Polandia dan 
Lithuania. Pergerakannya menyebar keseluruh Eropa utara. Sekarang pusat 
Hasidisme berlokasi di Jerusalem, Israel, dan di wilayah Brooklyn, New York 
City. 
10. Tahun 1700-an, Haskalah (pencerahan), The Haskalah, didirikan oleh philosof 
yahudi jerman, Moses Mendelssohn, yaitu modernisasi pemikiran religius. 
Pergerakannya dimulai di German dan menyebar ke komunitas Yahudi di Europe. 
Tujuannya adalah persamaan hak antara Yahudi dengan bangsa Eropa.Tahun 
1789-1799, terjadi French Revolution yaitu menuntut liberty (kebebasan) dan 
equality (persamaan hak) adalah hasil dari idea Haskalah. 
11. Tahun 1800-an, anti-Semitism sangat kuat di politik Eropa, terutama Germany, 
Austria-Hungary, dan France. banyak anti-Semitic writers berusaha untuk 
memprovokasi kejelekan Yahudi untuk kepentingan Germans dan orang-orang Eropa 
Utara, the writers tersebut adalah orang-orang Aryans. 
12. Sekarang, bangsa Yahudi melanjutkan hidupnya dengan subur, yaitu di Israel 
dan the Diaspora (Perantauan).

Konsep Institusi Pendidikan Unggul

Ada tujuh komponen utama yang diperlukan dalam mendisain Institusi Pendidikan Unggul dengan konsep sekolahnya manusia. Tujuh komponen tersebut adalah sebagai berikut: 

1. Religion and character building 
Sekolahnya manusia merupakan sekolah yang mempunyai pandangan dunia dan visi keagamaan yang kuat. Untuk membangun karakter siswanya, sekolahnya manusia juga mengembangkan pemikiran, membelajarkan jiwa, mendidik siswa kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berakhlakul karimah dan mampu memberi manfaat bagi lingkungannya. 

2. Agent of change 
Sekolahnya manusia harus berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari kondisi negatif menjadi kondisi positif. 

3. The Best Process 
Sekolahnya manusia mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan untuk semua kondisi. Bagaimanapun ragam kondisi in put siswa akan menjadi out put yang baik jika dalam proses pembelajarann mereka dapat dilaksanakan secara optimal. Menerima siswa dengan in put siswa apa adanya untuk diproses secara baik hingga menjadi out put siswa yang berprestasi adalah misi utama sekolahnya manusia. 

4. The Best Teachers 
Dalam konsep sekolahnya manusia guru merupakan fasilitator dan katalisator. Dalam pembelajarannya guru lebih dulu mengenal gaya belajar siswa. Dalam kegiatan belajar mengajarnya, guru diharapkan mampu menyelaraskan dengan gaya belajar siswa. 

5. Active Learning 
Strategi belajar pada sekolahnya manusia menitik beratkan pada keaktifan siswa, sehingga siswa mempunyai target untuk BISA APA?, selain harus TAHU APA? 

6. Applied learning 
Dalam pembelajarannya sekolahnya manusia, guru diharapkan selalu berusaha mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya belajar konsep-konsep abstrak tetapi pembelajaran yang langsung diaplikasikan 

7. Management Control 
Sekolahnya manusia mempunyai siklus kontrol dalam proses pembelajarannya, mulai dari perencanaan mengajar, konsultasi, observasi kelas, dan analisa perbaikan yang dilakukan secara kontinyu.

Jumat, 01 Juli 2011

Filsafat Islam

Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Masedonia, tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti lskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir, Antakia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di lran.

Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir , Suria serta Irak, dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Daerah-daerah ini, dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut, jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Tetapi penduduknya, sesuai dengan ajaran al-Qur'an, bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam han'ya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi, tidak dipaksa para sahabat untuk masuk Islam. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi.

Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Untuk itu mereka pelajari falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi.

Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah :
  1. Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya, dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu.
  2. Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusia dewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berfikir secara mendalam. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah, yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun pemikiran.
  3. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha Adil. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah, yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu, dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini.
Teologi rasional Mu'tazilah inilah, dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi, kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, yang membawa pada perkembangan Islam, bukan hanya falsafat, tetapi juga sains, pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M.
Filosof besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi, (796- 873 M) satu-satunya filosof Arab dalam Islam. la dengan tegas mengatakan bahwa antara falsafat dan agama tak ada pertentangan. Falsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Selajutnya falsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama, dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. Menurut pemikiran falsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. Falsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Falsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah falsafat ketuhanan atau teologi. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. Karena itu mempelajari falsafat, dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang, tetapi wajib.

Dengan falsafat "al-Haqq al-Awwal"nya, al-Kindi, berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. Al-haqiqah atau kebenaran, menurut pendapatnya, adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya, yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan, particulars). Yang penting bagi falsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri, tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. Hakikat yang ada dalarn benda-benda itu disebut kulliat (keumuman, universals ). Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah juz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli, (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah, yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis.

Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan falsafat Islam. Dalam hal ini Al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Dalam pemikirannya, kalau Tuhan, Pencipta alam semesta, berhubungan langsung dengan ciptaan nya yang tak dapat dihitung banyaknya itu, di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Zat, yang di dalam diriNya terdapat arti banyak, tidaklah sebenarnya esa. Yang Maha Esa, agar menjadi esa, hanya berhubungan dengan yang esa.

Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan falsafat emanasi (al-faid, pancaran) dari Al-Farabi. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa, dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang esa.
Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran, yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berfikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut:
 
Akal l11 menghasilkan Akal IV dan Saturnus.
Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter.
Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars.
Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari.
Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus.
Akal VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri
Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan.
Akal X menghasilkan hanya Bumi.
Pemikiran Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal.

Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi, yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal, karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal dalam pendapat filosof Islam adalah melekat.

Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi Al-Farabi. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini, tetapi melalui Akal I yang esa, dan Akal I melalui Akal II, Akal II melalui Akal l11 dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X.

Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, tetapi melalui Akal atau malaikat. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak, dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat Al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof Islam yang menganut faham emanasi.

Alam dalam falsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil, tetapi dari materi asal yaitu api, udara, air dan tanah. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Maka materi asal timbul bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan.

Karena Tuhan berfikir semenjak qidam, yaitu zaman tak bermula, apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim, dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Dengan lain kata Akal I, Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api, udara, air dan tanah adalah pula qadim. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim, yang dikritik AI-Ghazali.

Selain kemahaesaan Tuhan, yang dibahas filosof-filosof Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. Falsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980 -1037 M). Sama dengan AI-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian:
  1. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan berkembang biak.
  2. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak, pindah dari satu tempat ke tempat, dan daya menangkap dengan pancaindra, yang terbagi dua: (a) Indra luar, yaitu pendengaran, penglihatan, rasa dan raba. Dan (b) Indra da1am yang berada di otak dan terdiri dari:
    i. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra.
    ii. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi.
    iii. Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini.
    iv. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut.
    v. Indra pengingat yangmenyimpan arti-arti itu.
  3. Jiwa manusia, yang mempunyai hanya satu daya, yaitu berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua:
    a. Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang.
    b. Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat.
Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedang akal teoritis kepada alam metafisik. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini, dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berfikir manusia yang disebut akal itu. Akal praktis, kalau terpengaruh oleh materi, tidak meneruskan arti-arti, yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang, ke akal teoritis. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik.

Akal teoritis mempunyai empat tingkatan :
I. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk rnenangkap arti-arti murni.
2. Akal bakat, yang telah mulai dapat rnenangkap arti-arti murni.
3. Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak rnenangkap arti- arti murni.
4. Akal perolehan yang telah sernpurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni.
Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan memiliki filosof-filosof. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. 

Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh, orang itu dekat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. 
Setelah tubuh manusia mati, yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah.
Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri, yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. Jiwa berhajat kepada badan manusia, karena otaklah, sebagaimana dilihat di atas, yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan, jiwa tak berhajat lagi pada badan, bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni.
Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya, Kedua jiwa ini, karena telah rnemperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembali di akhirat. Jiwa manusia, berlainan dengan kedua jiwa di atas, fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia, tetapi di akhirat. Kalau jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak kekal, jiwa manusia adalah kekal. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak.

Dari faham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali.
Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensia (al-fasl). Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan; yang ada hanyalah semata-mata zat.

Pemurnian itu membawa Al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim, tak bermula dalam zaman dan baqin, tak mempunyai akhir dalam zaman. Karena Tuhan dalam falsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa, timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat, yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Karena akal I, II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I, II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan, pembangkitan jasmani tak ada. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filosof percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam.

Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filosof lslam. Tiga, diantara sepuluh itu, menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran, yaitu :
1. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman
2. Pembangkitan jasmani tak ada
3. Tuhan tidak rnengetahui perincian yang terjadi di alam.

Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran, dalam pendapat al-Ghazali, karena qadim dalam falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman, yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan ini berarti tidak diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah : la qadima, illallah, tidak ada yang qadim selain Allah. Kalau alam qadim, maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Ini membawa kepada faham syirk atau politeisme, dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan.

Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Ini membawa pula kepada ateisme. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid, yang sebagaimana dilihat di atas para filosof mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filosof yang percaya bahwa alam ini qadim.

Mengenai masalah kedua, pembangkitan jasmani tak ada, sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini? Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali". Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an, yang adalah wahyu dari Tuhan.

Pengkafiran tentang masalah ketiga, Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam, juga didasarkan atas keadaan falsafat itu, berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat Al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya.

Pengkafiran Al-Ghazali ini membuat orang di dunia lslam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran, menjauhi falsafat. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah falsafat tetapi tasawuf. Dalam pada itu sebelum zaman Al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935), yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan faham Mu'tazilahnya dan menimbulkan, sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah, teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari.
Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah, teologi Asy'ari bercorak tradisional. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal berikut :
1. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah, sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan falsafi.
2. Karena akal lemah, manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa, yang belum bisa berdiri sendiri, tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Teologi ini mengajarkan faham jabariah atau fatalisme, yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di sini bersikap statis.
3. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari faham kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini tak terdapat; yang ada ialah kebiasaan alam. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam, selamanya membakar , tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan.

Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis, sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'taziiah. Sesudah al-Ghazali, teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filosof-filosof Islam.

Di dunia Islam bagian Barat, yaitu di Andalus atau Spanyol Islam, sebaliknya, pemikiran filosofis masih berkembang sesudah serangan a1-Ghazali tersebut, Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al- Wida' kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan.

Ibn Tufail (w. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah, bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan, wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan, kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan mejauhi perbuatan jahat. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau, jauh dari masyarakat manusia, dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan, seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. Tapi Ibn Rusydlah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahufut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah.

Mengenai masalah pertama qidam al-alam, alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman, konsep AI-Ghazali bahwa alam hadis, alam mempunyai permulaan dalam zaman, menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam, tidak ada sesuatu di samping Tuhan. Tuhan, dengan kata lain, di ketika itu berada dalam kesendirianNya. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil.
Konsep serupa ini, kata Ibn Rusyd, tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan, telah ada sesuatu di sampingNya. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan, Dan Ialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air.

Jelas disebut dalam ayat ini, bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan, air. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula, Kemudian la pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap.
Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap, dan air serta uap adalah satu. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula, Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat ' bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. Kami jadikan segala yang hidup dari air.
Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan.

Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof lain. Di samping itu, kata khalaqa di dalam al-Qur'an, kata Ibn Rusyd, menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada", seperti yang dikatakan al-Ghazali, tetapi dari "ada", seperti yang dikatakan filosof-filosof. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun, menjelaskan, Kami ciptakan manusia dari inti sari, tanah. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada", yaitu intisari tanah seperti disebut, oleh ayat di atas. Falsafat memang tidak menerima konsep.

penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo). "Tiada", kata Ibn Rusyd tidak bisa berobah menjadi "ada", yang terjadi ialah "ada" berobah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Dalam hal bumi, "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Demikian pula langit. Dan yang qadim adalah materi asal. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis ). Qadimnya alam, menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme, karena qadim dalam pemikiran falsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan, tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus, mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan, tetapi adalah pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir . Dengan demikian sungguhpun alam qadim, alam bukan Tuhan, tetapi adalah ciptaan Tuhan.

Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut:
Jangan1ah Sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan ( demikian pula) langit.
Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asap api, udara, air dan tanah kembali dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an.

Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filosof dalam falsafat mereka tentang qadimnya alam.
Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filosof dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filosof dengan pendapat al-Ghazali.

Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra.
Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filosof-filosof Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahafut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada.

Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filosof dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filosof, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka.
Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana filosof-filosof Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil ada1ah meninggalkan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya.

Antara falsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini aka1 mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian aka1 dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Sa1ah satu ajaran averroisme ia1ah kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat falsafat benar sungguhpun menurut agama sa1ah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasiona1 dan ilmiah di Eropa.

Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tingga1 di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada tahun 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia.
Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulaah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat.

Di dunia Islam bagian timur, kecuali di ka1angan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada ja1an falsafat, terus berkembang. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, falsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berfikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan,dan lain-lain.