Selasa, 10 Januari 2012

Paradigma Kecerdasan (Bagian 3)

A. THOMAS ARMSTRONG
Thomas Armstrong yang berasal dari latar belakang pendidikan khusus adalah salah satu pendidik pertama yang menerjemahkan teori Multiple Intelligences. Armstrong berusaha menerjemahkan teori Multiple Intelligences, yang semula dalam ranah psikologi, ke dalam ranah pendidikan. Armstrong memasukkan sentuhan-sentuhannya sendiri: petunjuk adanya “Pengalaman yang melumpuhkan”, yang melengkapi konsep Joseph Walter dan Gardner tentang “Pengalaman yang mengkristalkan”; anjurannya untuk menggunakan kenakalan-kenakalan siswa sebagai petunjuk pengembangan kecerdasan mereka; saran-saran informal tentang cara melibatkan siswa dalam proses penilaian kecerdasan mereka sendiri dan cara mengelola kelas dengan pendekatan Multiple Intelligences.


Selama empat belas tahun Armstrong mencoba menerapkan teori Multiple Intelligences Howard Gardner dalam persoalan-persoalan dasar mengajar di kelas. Dia mulai tertarik pada teori Multiple Intelligences pada 1985, saat menyadari teori ini memungkinkan kita berbicara tentang bakat alami anak-anak, terutama mereka yang dicap sebagai anak yang bermasalah dalam belajar di sekolah (Armstrong, 1987). Pada 1970-an sampai 1980-an, sebagai seorang spesialis yang menangani siswa yang mengalami kesulitan belajar, dia mulai terdorong untuk meninggalkan model yang disebutnya paradigma deficit dalam pendidikan khusus. Dia ingin mengembangkan sebuah model baru berdasarkan pada hal yang dilihatnya sebagai ragam-bakat para siswa yang dianggap “cacat”.
Sejak penerbitan bukunya Howard Gardner, Frames of Mind pada 1983, kesadaran pendidik tentang teori Multiple Intelligences berkembang pesat. Dari sebuah model yang semula popular terutama di bidang pendidikan khusus dan sekolah-sekolah serta guru-guru di kalangan terbatas di Amerika Serikat pada 1980-an, teori Multiple Intelligences meluas hingga menjangkau ratusan distrik sekolah, ribuan sekolah, puluhan ribu guru di Amerika Serikat, serta di berbagai Negara lain pada 1990-an. Para pendidik menerapkan konsep-konsep Multiple Intelligences dalam banyak hal, mulai dari program untuk anak-anak (Merrefield, 1997) sampai sekolah tinggi (Diaz-Lefebvre & Finnegan, 1997), bahkan di panti penampungan gelandangan (Taylor-King, 1997).

B. MUNIF CHATIB

Munif Chatib adalah seorang tokoh pendidikan yang sangat aktif memperjuangkan teori Multiple Intelligences agar dapat diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1998-1999, Chatib menyelesaikan studi Distance Learning di Superchamp Oceanside California USA yang dipimpin oleh Bobbi DePoorter. Dari 73 lulusan alimni pertama tersebut, beliau menduduki peringkat ke-5 dan satu-satunya lulusan dari Indonesia.
Kemudian, sampai dengan tahun 2007, Chatib, dengan bimbingan Howard Gardner telah mengembangkan penelitian tentang MIR (Multiple Intelligences Research) agar dapat diterapkan di Indonesia. MIR adalah instrument riset yang dapat memberikan deskripsi tentang kecendrungan kecerdasan seseorang. Dari analisis terhadap kecendrungan kecerdasan tersebut, dapat disimpulkan gaya belajar terbaik bagi seseorang. Setiap guru harus menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui dari hasil MIR. MIR yang dilakukan secara berkala terhadap seseorang dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar akan menjadi akselerator baginya untuk menemukan kondisi terbaik.
J.K.  Rowling (Penulis novel fiksi Harry Potter) menemukan kondisi akhir terbaiknya pada usia 43 tahun sehingga menjadikan dia sebagai wanita terkaya sedunia 2007 (majalah Forbes). Namun, ada juga sebagian orang berhasil menemukan kondisi akhir terbaiknya sejak dini, misalkan pada umur 5 tahun atau bahkan lebih awal. Dengan MIR yang dilakukan secara rutin (minimal setiap tahun), setiap siswa memiliki data riwayat kecerdasan yang memungkinkan seseorang lebih cepat menemukan kondisi akhir terbaiknya.


Tabel : Anak dengan kondisi akhir terbaik di awal usia

NO
Nama dan Asal Negara
Kecerdasan
Kondisi Akhir Terbaik dan Umurnya
1
Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I (iran)
Spasial-Visual
Hafal Al Quran beserta maknanya dengan metode photocopy memory (5 Tahun)
Gelar doctor kehormatan dari universitas di Inggris (7 tahun)
2
Alia Sabur (Amerika Serikat)
Linguistik
Musikal
Mulai membaca dan bicara (umur 8 Bulan)
Konser Solo Mozart Concerto (umur 11 tahun)
3
Ghefira Nurfatimah (Indonesia)
Linguistik
Pemegang rekor MURI untuk penulis termuda Indonesia (kelas 2 SD)

4
Maria Audrey Lukito (Indonesia)
Linguistik
Sarjana Termuda Indonesia (16 Tahun)
Anak usia termuda (14 tahun) dari Indonesia yang menguasai 3 bahasa asing: Inggris (TOEFL:670), Prancis (Lulus DELF A3), dan Rusia (dari University of Virginia)
Peserta termuda (14 tahun) dari Indonesia dengan nilai tinggi (670) untuk ujian TOEFL
Mahasiswi termuda (13 tahun) dari Indonesia yang masuk perguruan tinggi di Amerika (Mary Baldwin College)
5
Jeane Phialsa (Alsa) (Indonesia)
Musikal
Drumer professional termuda Indonesia (7 tahun)

Bersambung...

Jumat, 06 Januari 2012

Paradigma Kecerdasan (Bagian 2)

                      MULTIPLE INTELIGENCE:  HOWARD GARDNER


Hampir delapan puluh tahun setelah dikembangkannya tes IQ, psikolog Harvard, Howard Gardner mempersoalkan pengertian kecerdasan yang diyakini masyarakat selama ini. Dia mengatakan bahwa penafsiran kecerdasan di kebudayaan kita terlalu sempit. Sebagai gantinya, dalam bukunya Frames of Mind (Gardner, 1983) dia mengemukakan sekurang-kurangnya ada tujuh kecerdasan dasar.  Belum lama berselang, dia menambahkan kecerdasan kedelapan dan kemungkinan adanya kecerdasan yang kesembilan (Gardner, 1999). Dengan teori kecerdasan majemuk, Gardner berusaha memperluas lingkup potensi manusia melampaui batas nilai IQ. Dengan serius dia mempertanyakan keabsahan penilaian kecerdasan individu melalui tes-tes yang dilakukan di luar lingkungan belajar alamiah dan yang dilakukan dengan meminta seseorang melakukan tindakan terisolasi yang belum pernah ia lakukan sebelumnya - dan mungkin, tidak akan pernah ia lakukan lagi. Sebagai gantinya, Gardner menyatakan bahwa kecerdasan lebih berkaitan dengan kapasitas (1) memcahkan masalah dan (2) menciptakan produk di lingkungan yang kondusif dan alamiah.
Gardner memetakan lingkup kemampuan manusia yang luas menjadi delapan kategori yang komprehensif atau delapan “kecerdasan dasar”.
Kecerdasan Linguistik. Kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan (misalnya, pendongeng, orator, atau politisi) maupun tertulis (misalnya, sastrawan, drama, editor, wartawan).
Kecerdasan Matematis-Logis. Kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya, ahli matematika, akuntan pajak, ahli statistic) dan melakukan penalaran yang benar (misalnya, sebagai ilmuwan, pemrograman computer, atau ahli logika).
Kecerdasan Spasial. Kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat (misalnya, sebagai pemburu, pramuka, pemandu) dan mentarsformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut (misalnya, decorator interior, arsitek, seniman atau penemu).
Kecerdasan Kinestik­-Jasmani. Kemampuan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan (misalnya, sebagai actor, pemain pantomime, atlet, atau penari) dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu (misalnya, sebagai pengrajin, pematung, ahli mekanik, dokter bedah).
Kecerdasan Musikal. Kemampuan menangani bentuk-bentuk musical, dengan mempersepsi (misalnya, sebagai kritikus music), membedakan (misalnya, sebagai kritikus music), menggubah (misalnya, composer), dan mengekspresikan (misalnya, sebagai penyanyi).
Kecerdasan Interpersonal. Kemampuan memersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.
Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.
Kecerdasan Naturalis. Keahlian mengenali dan mengategorikan species-flora dan fauna- di lingkungan sekitar.

Tabel: Kecerdasan dan Kondisi Akhir Terbaik
Kecerdasan
Komponen Inti
Kondisi Akhir Terbaik
Linguistik
Kepekaan pada bunyi, struktur, makna, fungsi
Penulis, orator (misalnya, Virginia Woolf Jr., Martin Luther King, Helen Keller, Agatha Christie, Sapardi Joko Damono)
Matematis-Logis
Kecerdasan dan kapasitas mencerna pola-pola logis atau numeris; kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang.
Ilmuwan, ahli matematika (misalnya, Madame Currie, Blaise Pascal, Bill Gates, Habibie)
Spasial
Kepekaan memersepsi (merasakan) dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasi persepsi awal.
Seniman, Arsitek (misalnya, Frida Kahlo, I.M. Pei, Joko Pekik, Garin Nugroho)
Kinestis-Jasmani
Kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengelola objek.
Penari, atlet, pematung (misalnya, Martha Graham, Auguste Rodin, Maradona, Susi Susanti, Gusmiati said)
Musikal
Kemampuan menciptakan dan mengapresiasi irama, pola titinada, dan warna nada; apresiasi bentuk-bentuk ekspresi musical.
Composer dan penyanyi (misalnya, Stevie Wonder, Midori, Ramona Purba, Asep Irama)
Interpersonal
Kemampuan mencerna dan merespons secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain.
Konselor dan pemimpin politik (misalnya, Carl Rogers, Nelson Mandela, Margaret Thatcher, Indira Gandhi, Soekarno)
Intrapersonal
Memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi; pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.
Psikoterapis, pemimpin keagamaan (misalnya, Sigmund Freud, Buddha)
Naturalis
Keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies; mengenali eksistensi spesies lain; dan memetakan hubungan antara beberapa spesies, baik secara informal maupun formal.
Peneliti Alam, ahli biologi, aktivis binatang (misalnya, Charles Darwin, E.O. Wilson, Jane Goodall, Louis Pasteur)

Di samping pembahasan kedelapan kecerdasan, beberapa poin-poin kunci tentang  model teori Multiple Intelligences (MI) yang juga perlu diperhatikan:
1.      Setiap orang memiliki kedelapan kecerdasan. Teori MI bukanlah “teori jenis” untuk menentukan satu kecerdasan yang sesuai. Teori ini adalah teori fungsi kognitif, yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas dalam kedelapan kecerdasan tersebut. Kedelapan kecerdasan tersebut berfungsi berbarengan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap orang. Beberapa orang memiliki tingkatan yang sangat tinggi pada semua atau hampir semua kecerdasan - misalnya, penyair - negarawan -  ilmuwan - naturalis - filsuf Jerman Johann Wolfgang von Goethe. Sebagian yang lain, seperti yang ada di lembaga - lembaga keterbelakangan mental, tampaknya memiliki kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek kecerdasan yang paling mendasar. Secara umum, kita berada di antara dua kutub ini - sangat berkembang dalam sejumlah kecerdasan, cukup berkembang dalam kecerdasan tertentu, dan relative agak terbelakang dalam kecerdasan yang lain.
2.      Orang pada umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai. Meskipun mungkin orang akan menyesali kekurangan di wilayah kecerdasan tertentu dan menganggap masalah ini sebagai masalah masalah bawaan dan tidak dapat diubah, Gardner berpendapat bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan mengembangkan kedelapan kecerdasan sampai pada kinerja tingkat tinggi yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran.
3.      Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks. Gardner menunjukkan bahwa setiap kecerdasan yang telah dibahas di muka sebenarnya hanyalah “rekaan”; yakni, tidak ada kecerdasan yang berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari (kecuali mungkin untuk kasus yang amat langka pada diri savant dan orang yang mengalami cidera otak). Kecerdasan selalu berinteraksi satu sama lain.
4.      Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori. Tidak ada rangkaian atribut standar yang harus dimiliki seseorang untuk dapat disebut cerdas dalam wilayah tertentu. Oleh karena itu, orang mungkin saja tidak dapat membaca, tetapi memiliki kecerdasan linguistic yang tinggi karena ia dapat menyampaikan cerita memukau atau memiliki kosa kata lisan yang luas. Demikian pula, orang mungkin tampak canggung ketika berada di lapangan olah raga, tetapi memiliki kecerdasan kinestik-jasmani yang luar biasa ketika ia merajut karpet atau membuat papan catur yang indah.(Multiple Intelligences in the Classroom, hal. 16-17, Thomas Armstrong, 2000). 
Bersambung ke http://kecerdasanmanusia.blogspot.com/2012/01/paradigma-kecerdasan-bagian-3.html
B



Selasa, 03 Januari 2012

Paradigma Kecerdasan (Bagian 1)

Multiple Inteligence adalah wacana baru tentang kecerdasan. Pemahaman makna kecerdasan merupakan awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Kesepakatan atas paradigma dan makna tentang kecerdasan selanjutnya menjadi awal penyusunan dan aplikasi sebuah sistem pendidikan.

Apakah yang dimaksud kecerdasan?. Sejak beratus-ratus tahun yang lalu manusia berusaha memahami makna kecerdasan. Teori kecerdasan terus berkembang, mulai dari Plato, Aristoteles, Darwin, Alfred Binet, Stanberg, Piaget, sampai yang terakhir adalah Howard Gardner. 

Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada 1983 saat Dr. Howard Gardner, pemimpin Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Teori Multiple Intelligences yang belakangan ini banyak diikuti oleh psikolog dunia yang berpikiran maju, mulai menyita perhatian masyarakat dunia. Multiple Intelligences pada awalnya berada di ranah psikologi namun kemudian berkembang sampai ke ranah pendidikan, bahkan telah merambah ke ranah dunia professional di organisasi-organisasi bisnis.

a.      TES IQ
Alfred Binet, pembuat tes IQ, adalah seorang psikolog yang professional, tetapi dia tidak mampu menolak permintaan penguasa dan birokratis yang tidak professional untuk menghubungkan kecerdasan seseorang dengan eugenic (factor keturunan). Permintaan ini dilatar belakangi oleh fakta sejarah yang terjadi pada 1900-an di Prancis dan Negara Eropa lainnya bahwa peran kaum buruh dalam konstelasi politik domestic meningkat tajam.
Kaum buruh lantang bicara di parlemen tentang hak-haknya sebagai warga Negara. Mereka berpendapat bahwa wakil mereka harus ada di parlemen sebagai suara rakyat. Penguasa dan para bangsawan pada saat itu khawatir jika kekuasaan yang telah mereka nikmati selama bertahun-tahun akan direbut oleh kaum buruh. Padahal, awalnya kaum buruh adalah bawahan, bahkan menjadi budak penguasa. Apalagi pengaruh pemikiran dan propaganda dari tokoh-tokoh buruh pada saat itu: Mussolini di Italia dan Karl Marx di Jerman member semangat kaum buruh untuk memperjuangkan eksistensinya di kancah politik.

Jika diteliti secara mendalam, tes IQ yang diciptakan Binet mengandung konsep eugenic (keturunan). Sebenarnya, hasil test ini ingin menghubungkan factor keturunan dengan factor kecerdasan. Argumentasi yang ingin dikembangkan pada saat itu adalah penguasa atau bangsawan pasti memiliki keturunan anak-anak yang cerdas sebab penguasa dan bangsawan adalah kelompok masyarakat yang cerdas. Sebaliknya, kelompok buruh yang notabene pekerja kasar adalah mereka yang tidak cerdas, dan oleh karena itu pasti akan melahirkan keturunan-keturunan yang bodoh. Hal yang berbahaya bagi Negara jika dipimpin oleh generasi yang bodoh dan tidak cerdas.

Pengelompokan hasil tes IQ menjadi kelompok angka-angka yang statis menunjukkan kenyataan tersebut. Sehingga secara praktis, hasil tes IQ anak-anak masyarakat buruh pada saat itu pada range angka IQ yang rendah.

IQ adalah usia mental  seseorang dibagi dengan usia kronologis, lalu dikalikan dengan 100. Rumusnya adalah :
IQ = MA/CA x 100
MA adalah Mental Age dan CA adalah Chronological Age

Jika, usia mental seseorang sama dengan usia kronologis, IQ orang itu adalah 100. Kemudian, angka IQ tersebut dimasukkan ke sebuah daftar yang memuat angka IQ dari banyak orang, lalu dibuat sebuah grafik dan dibandingkan antara angka orang yang satu dengan yang lainnya. Metode perhitungan inilah yang menimbulkan perdebatan dikalangan para ahli. Jika ada sejuta anak yang dites  IQ, maka akan menghasilkan angka IQ yang dipaksa masuk range angka anak bodoh, anak normal, anak cerdas, dan anak genius. (Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, 2009). (Bersamabung..)

Rabu, 28 Desember 2011

Gerakan Revolusi e-Bisnis Di Indonesia!

Tahukah Anda, bahwa kebanyakan orang Indonesia menggunakan Internet hanya sebagai 'user' (pengguna)? Dan 'user' itu identik dengan 'customer'. 

Di bawah adalah gambaran kegiatan seorang pengguna internet sebagai user:

Internet for user
User biasanya menggunakan Internet hanya sebatas untuk mengirimkan email; browsinguntuk mencari informasi; chatting untuk ngobrol sana-sini dengan teman; berdiskusi melalui forum, milis, dll. Juga men-download musik, video, softwaregameseBook untuk kepentingan pribadi atau sekedar hiburan.

Apakah Anda salah satunya? :-)

Fakta 1: Bisnis online (eCommerce) saat ini masih dikuasai oleh negara-negara maju. Sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia dijadikan salah satu target market atau pangsa pasar mereka!

Fakta 2: Sebuah bangsa akan lebih maju, jika masyarakatnya sadar bahwa internet sebenarnya bisa dijadikan sebagai 'alat' untuk mengembangkan bisnis mereka ke seluruh dunia.

Seorang pemasar online, dia menggunakan teknologi internet untuk mengembangkan bisnisnya ke penjuru dunia. Kita bisa lihat bagaimana mereka menggunakan email untuk promosi melalui newsletter-nya, browsing untuk melakukan riset pasar, meng-upload info produk mereka untuk dijual. Dan menyediakan forum untuk pelanggannya. 

Sederhananya, yang mereka lakukan adalah kebalikan dari seorang 'user'. Coba perhatikan gambar di bawah:

Internet for marketer
Bisnis online sendiri sebenarnya sudah marak di Indonesia sejak tahun-tahun sebelumnya. Banyak orang Indonesia mengenalnya dengan istilah eCommerceinternet marketing, atau online marketing

Perbincangan seputar HEBATnya eCommerce ini sering kita dengar di mana-mana. Sayangnya, tidak ada yang mampu mengajarkan ilmunya, setahap demi setahap dansecara detil apa yang harus dilakukan, dan bagaimana memulainya!

Untuk itulah Asian Brain IMC (Internet Marketing Center) hadir, sebagai pusat pembelajaran Internet Marketing PERTAMA di Indonesia. 

Pendirinya, Anne Ahira, memiliki misi dan visi untuk menciptakan Gerakan REVOLUSI eBisnis di Indonesia. 

Melalui 'sekolah online' nya, Ahira berharap bisa mencetak ribuan pemasar onlineprofessional yang siap bersaing dengan pemasar online di seluruh dunia, dan sedikit banyak hal ini sudah terbukti!

Saat menerima penghargaan dari Bapak Suryadharma Ali, Menteri Koperasi & UKM Republik Indonesia, Anne Ahira memberikan gambaran posisi Indonesia di dunia internet marketing saat ini:


Menurut Ahira, ada jutaan pemasar online dari berbagai negara saat ini, yang mempromosikan produk mereka ke seluruh dunia, dan salah satu negara yang menjadi target marketnya adalah INDONESIA

Bayangkan, sudah berapa banyak orang Indonesia yang telah berbelanja produk melalui internet? Katakanlah berbelanja buku di Amazon? Atau meski hanya mengklik sebuah iklan sekalipun? Lalu siapa yang meraup keuntungan? --» Pemasar online luar negeri! «-- 

Menurut Ahira, fakta di atas bisa diubah dan diseimbangkan, dengan cara memberikanedukasi kepada masyarakat Indonesia agar mulai menggunakan internet sebagai media promosi bisnis mereka! 

Bagi Anda yang tidak memiliki produk, Anda bisa menjalankan bisnis online dengan mengikuti program affiliate, yaitu membantu memasarkan produk orang lain untuk mendapatkan komisi. 

Bagi pemilik Industri kecil, Anda bisa membangun program affiliate dan mengundang pemasar online di seluruh dunia untuk turut serta mempromosikan produk Anda ke seluruh dunia!

Bayangkan, jika banyak orang Indonesia yang paham bagaimana cara mempromosikan produk dalam negeri melalui internet, maka inilah yang akan terjadi:


Jika ada ribuan, atau bahkan jutaan orang Indonesia yang mampu berpenghasilan ribuan US dollar per bulan dari bisnis online-nya! Bukankah itu sebuah REVOLUSI?

Mungkinkah REVOLUSI ini bisa terjadi?

Kenapa tidak? :-)

Jika kita semua mulai belajar, saling bahu-membahu dan bergandengan tangan, revolusi itu sangat mungkin terjadi! 

Melalui edukasi Internet Marketing di Asian Brain, bersama-sama kita BUKTIKAN kepada dunia, bahwa orang Indonesia pun mampu bersaing di pasar global, dan YAKIN kita bisalebih baik daripada mereka!

Banyak murid Ahira sudah membuktikannya, dan kini giliran ANDA!

Dukung Gerakan Revolusi eBisnis di Indonesia dengan belajar Internet Marketing bersama kami!

Minggu, 06 November 2011

The Best School

Jika kita membaca buku karya Thomas Armstrong, The Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice, kita akan menemukan dua wacana besar dalam model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua, Wacana Perkembangan Manusia.

Dua model sekolah ini mempunyai karakter masing-masing. Menurut Armstrong model sekolah Wacana Perkembangan Manusia merupakan model yang baik. Amstrong menentang sekolah Wacana Prestasi Akademik karena menjadi salah satu penyebab hancur dan gagalnya pendidikan.

Dampak negatif sekolah Wacana Prestasi Akademik yaitu mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian, mendorong siswa menyontek, mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan pegawai administrasi, mengakibatkan tingkat stres yang berbahaya di kalangan pendidik dan siswa. Sekolah Wacana Prestasi Akademik mengakibatkan munculnya kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan perkembangan anak di semua tingkatan sekolah, mulai dari prasekolah hingga sekolah atas. Anak kehilangan esensi belajar yang sesuai dengan perkembangan dirinya. Anak didik dikondisikan untuk mengejar target akademik, yaitu untuk lulus ujian semata meski dengan banyak melakukan kecurangan. Berbeda dengan model sekolah Wacana Perkembangan Manusia yang mempunyai makna mengungkap atau membuka potensi yang terdapat dalam diri manusia bahkan mempunyai makna mengurai, membuka atau membebaskan manusia dari keterkungkungan, kerumitan atau rintangan.

Beberapa dampak negative dari Wacana Prestasi Akademik:

1. Menimbulkan bidang-bidang yang terabaikan di kurikulum, yang merupakan bagian dari pendidikan utuh yang diperlukan siswa guna meraih keberhasilan dan pemenuhan dalam hidup.

2. Mengakibatkan terjadinya pengabaian intervensi instruksional positif yang tidak bisa dinilai oleh data dari penelitian ilmiah.

3. Mendorong pengajaran hanya demi persiapan menghadapi ujian.

4. Mendorong siswa menyontek dan menjiplak.

5. Mendorong manipulasi hasil ujian oleh guru dan pegawai administrasi.

6. Mendorong siswa menggunakan bahan-bahan illegal untuk membantu meningkatkan kinerja belajar.

7. Memindahkan kendali kurikulum dari pendidik di ruang kelas ke organisasi yang membuat standard an ujian.

8. Mengakibatkan tingkat stress yang berbahaya di kalangan pendidik dan siswa.

9.Miningkatkan kemungkinan siswa tinggal kelas dari tahun ke tahun dan keluar sekolah sebelum lulus.

10. Tidak memperhatikan perbedaan latar belakang budaya individu, gaya belajar, kecepatan belajar serta factor-faktor penting lain yang ada pada kehidupan anak sesungguhnya.

11. Memotong habis nilai hakiki (kesenangan) belajar demi belajar itu sendiri (nilai yang tinggi).

12. Membuat makin menjamurnya praktek-praktek tak layak di sekolah. (pendidikan PAUD yang dijajah oleh pekerjaan rumah, tugas-tugas, jam sekolah lebih panjang dsb.)

Sebenarnya inti pendidikan adalah bermakna dan memfasilitasi perkembangan manusia. Wacana Perkembangan Manusia lebih mengukur pertumbuhan pembelajaran di tengah pengalaman belajar itu sendiri. Menyuarakan pilihan-pilihan berkelanjutan untuk memfasilitasi perkembangan, melengkapi lingkungan belajar yang aman, membangun kepercayaan dalam lingkungan belajar, dan menggunakan pendekatan untuk mewadahi pertumbuhan optimal. Setiap individu dipandang dan diakui sebagai manusia yang mempunya nilai penting. Keunikan pada setiap individu menjadi kekayaan dunia pendidikan yang berwawasan pada Wacana Perkembangan Manusia, dan tentunya mempunyai dampak positif.

Dampak positif model Wacana Perkembangan Manusia yaitu membuat siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yang membuat mereka lebih siap untuk turun ke dunia nyata. Membuat semua siswa berhasil dan berdiri di bidang kekuatannya masing-masing. Siswa dapat mengembangkan kompetensi dan kualitas, akhirnya akan membantu dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Wacana Perkembangan Manusia membantu memperbaiki masalah sosial yang mencemari remaja dalam budaya masa kini yang terkotak-kotak, membantu siswa menjadi dirinya sendiri. Mengurangi masalah disiplin di sekolah, mendorong inovasi dan keragaman program belajar. Wacana Perkembangan Manusia, jika diimplementasikan pada program pendidikan di setiap jenjang pendidikan. Pendidikan pada wacana perkembangan manusia untuk tingkatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diimplementasikan dalam bentuk permainan. Permainan bagi anak adalah satu-satunya cara terbaik untuk memenuhi persyaratan perkembangan yang dapat ditempuh. Bermain adalah proses yang terus berubah (dinamis) dan bersifat multiinderawi, interaktif, kreatif, dan imajinatif. Pendidikan SD mengkhususkan kegiatan belajar untuk mengetahui alam semesta. Kegiatan yang sesuai perkembangannya adalah ruangan kelas yang membuka dunia nyata, membaca,menulis, dan matematika yang berhubungan dengan penemuan dunia nyata. Bahan pelajaran sifatnya autentik, mengeksplorasi dunia nyata yang dipandu oleh guru dan belajar berdasarkan pertemuannya dengan dunia nyata. Pada tingkatan SMP, proses pendidikan difokuskan pada perkembangan sosial, emosional dan meta-kognitif. Pada masa ini peserta didik dalam posisi remaja awal; masa sosial yang intens, ketika rasa ingin tahu untuk menjadi bagian dari sesuatu, komunitas, status sosial, dan kedekatan emosional memberikan konteks tempat bagi remaja dalam menemukan jati dirinya. Kaum remaja ini membutuhkan; suasana aman di sekolah, komunitas belajar kecil, hubungan antar-orang dewasa (guru, orang tua, lingkungan) yang bersahabat, panutan yang positif, aktivitas seni yang ekspresif, perhatian pada kesehatan dan kebugaran mengingat pada usia tersebut akan mengalami perubahan pubertas. Pada tingkat SMA (dan selanjutnya) siswa difokuskan pada hidup mandiri di dunia nyata. Siswa lebih difokuskan untuk kehidupan mereka setelah sekolah.